Suasana Jalan saat Malam hari

INSPIRASI TURKI: LOST IN ISTANBUL (5/5)

Saat menjelang selesainya program Summer School, pada malam Kamis, tepatnya 12 Agustus 2015, yang malam-malam sebelumnya biasa langsung digunakan untuk ful istirahat karena padatnya kegiatan kampus ditambah tour dengan banyak berjalan kaki, saya bersama seorang teman, Humam, punya ide untuk mencoba keliling kota Istanbul di malam hari.

Destinasi pertama yang kami kunjungi saat itu adalah Cikis. Kami pun turun dari bis dan berjalan melihat berbagai aktivitas perdagangan sepanjang jalan berupa penjualan seperti lukisan, dompet, sepatu, pakaian, pedagang kaki lima, dan tempat penukaran uang. Di tengah sepanjang jalan, kami menyempatkan untuk mencoba salah satu jenis kebab yang cukup unik karena rasanya yang agak asin. Setelah berpuas diri dengan melihat aktivitas pasar malam dan mencicipi salah satu kebab, kami langsung kembali ke stasiun sebelumnya.

Destinasi berikutnya adalah untuk ke sekian kalinya kami berkunjung ke Sultanahmet yang merupakan pusat di mana sekitarnya terdapat banyak sekali tempat wisata seperti Grand Bazaar, Gulhane Park, Topkapi Palace, Sultanahmet Camii (Blue Mosque), Sultanahmet Square, dan Hagia Sophia. Sengaja kami tidak bosan- bosannya untuk ke tempat ini karena saat itu kami penasaran bagaimana keindahan penampakan desain interiornya pada saat malam hari.

IMG_3266
Masjid Hagia Sophia saat malam hari
IMG_3246
Masjid Sultanahmet (Blue Mosque) saat malam hari

Di tengah asik-asiknya kami memotret di setiap sudut yang indah di Sultanahmet Square untuk merekam bagaimana indahnya Masjid Sultanahmet dan Hagia Sophia dari kejauhan, tak terasa jam tangan saya telah menunjukkan pukul hampir satu dini hari. Saat itu, sekejap saya kaget karena teringat bahwa pukul 01.00 setempat sampai pukul 07.00 pagi hari asrama sudah tutup. Walhasil kami bergegas langsung menuju ke Stasiun Sultanahmet dan selama menunggu waktu yang cukup lama, ternyata tram belum datang juga. Setelah menanyakan warga sekitar yang ada di stasiun, ternyata transportasi umum berhenti beroperasi pada 00.00 hingga pukul 06.00 pagi hari. Waduh!

Kabar baiknya hanya bis yang beroperasi selama 24 jam.

Kami sempat berdiam diri di sekitar stasiun untuk memikirkan solusi agar bagaimana caranya untuk bisa sampai ke asrama pada waktu itu juga karena bagaimanapun paginya harus siap-siap untuk kuliah apalagi H-1 adalah ujian akhir. Kami pun sempat berpikir menggunakan taxi umum dari Sultanahmet ke Besyol tempat asrama kami namun mahalnya luar biasa. Bisa-bisa membuat kami tidak sanggup membeli oleh-oleh sebelum pulang. Selain itu, kami juga sempat berpikir untuk menginap di salah satu masjid terdekat namun lagi-lagi baru sadar kalau di masjid-masjid Turki selalu tertutup setelah waktu Isya’. Akhirnya daripada kami berdiam kebingungan terus di tempat, mulailah kami berjalan ke arah tempat yang seharusnya dituju melalui tram. Karena sudah berjalan kaki yang amat panjang saat sebelum sadar telah lupa waktu dan butuh istirahat sebentar, kami istirahat di salah satu restoran yang masih buka untuk membeli jajanan berupa minuman dan makanan kecil sekaligus menyiapkan energi untuk berjalan lebih panjang lagi sambil mencari solusi tepat dan juga saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan unik dengan memotret di setiap sudut jalan pada dini hari.

IMG_3289
Humam

Di tengah jalan saat kami sudah berjalan sampai pada salah satu stasiun, kami membaca di salah satu dinding tempat menunggunya tram berupa informasi Istanbul Rapid Transit Network, kami baru mengetahui bahwa bis stasiun terdekat berada di Topkapi dan perlu berjalan kaki sepanjang melewati berbagai stasiun tram untuk bisa sampai yang dituju. Setelah dihitung jaraknya dari Stasiun Tram Sultanahmet sampai ke Stasiun Bis Topkapi, panjangnya bukan main! Kurang lebih hampir 7 km! Kami sudah sangat kewalahan untuk bisa membayangkan dapat berjalan sejauh itu sepanjang malam hari hingga menjelang subuh. Walhasil akhirnya kami tetap berjalan dan saya pun tidak henti-hentinya memotret berbagai sudut menarik di tengah kota yang sedang ‘tidur’.

Sepanjang perjalanan, kami mengalami tiga peristiwa yang cukup menarik.

Pertama, kami bertemu pedagang yang menjual kaos dengan harga lebih murah dari tempat sebelumnya. Kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini apalagi harga per kaosnya hanya sekitar 5-10 lira (Rp25.000-Rp50.000).

IMG_3323
Jualan Kaos Murah

Kedua, tidak jauh dari lokasi tempat pedagang kaos sebelumnya, kami sempat diberi perhatian oleh salah satu pedagang yang penampilannya sangat religius dengan gamis putihnya. Si pedagang yang masih muda tersebut mencoba merayu kami untuk membeli parfumnya sampai baju kami disemprot terlebih dahulu dengan parfum tersebut. Saya sempat merasa tertarik karena uniknya cara ‘marketing’nya apalagi dengan kondisi berjualan saat dini hari yang membuat ada rasa iba. Pedagang ini juga bercerita jika sebelumnya dia berjualan di Rusia dan karena ada desakan sesuatu akhirnya kurang lebih setahun sebelumnya memutuskan untuk hijrah ke Istanbul untuk menjual dagangan parfum tersebut. Wow! Selain itu, dia sempat menuturkan bahwa dia seorang muslim dan kami pun juga demikian, karenanya kita adalah saudara seiman. Tampaknya dia sedang mencoba untuk mengingatkan tentang pentingnya ukhuwah islamiyah saat itu. Bahkan saya merasakan hikmah yang mendalam dari setiap penuturan kata-kata si pedagang tersebut. Ditambah lagi, dia dan kawan-kawan sekitarnya sempat mengajak kami untuk beristirahat bahkan mentraktir di rumahnya sampai stasiun tram terdekat buka pada pagi hari dan juga melaksanakan sholat di dekat rumahnya karena waktu juga sudah menjelang subuh padahal tepat di belakang kami saat itu ada masjid besar namun dia mengingatkan karena di sekitarnya terdapat banyak kuburan ia mengingatkan bahwa tidak ada tuntunan nabi ada kuburan di sekeliling masjid. Saya pun sepakat dengan pernyataan hukum lokasi kuburan mengingat sudah mengetahui sebelumnya. Kami sempat dibuat bingung oleh keadaan saat itu namun setelah akhirnya memutuskan untuk tidak membeli parfum. Di luar dugaan kami, dia malah ingin memberikan secara gratis kepada kami, awalnya kami menolak tapi dia tekankan bahwa dia ikhlas dengan syarat dibacakan surat Al-Fatihah oleh kami berdua. Seolah si pedagang ini ingin mengetes kemampuan bacaan Al-Fatihah kami. Walhasil akhirnya kami pun dapat oleh-oleh gratis parfum tersebut. Lalu, saya sempat ingin mengikuti ajakan sholat subuh berjama’ah dengan mereka tetapi Humam merasa khawatir dengan kenalan baru orang asing tersebut yang akhirnya setelah kami berdebat sedikit memutuskan untuk memilih melanjutkan perjalanan menuju stasiun bis.

IMG_3324
Penampakan Masjid saat menjelang Subuh

Peristiwa menarik ketiga adalah saat di tengah perjalanan yang sudah cukup jauh dari lokasi pengalaman unik kedua sebelumnya, saya merasa heran saat HP sudah menunjukkan waktu adzan subuh Istanbul namun masjid-masjid yang dilalui belum juga mengumandangkan adzan subuhnya. Walhasil, kami mencoba untuk mampir di salah satu masjid dan terlihat dari dalam hanya seorang diri yang sudah sangat tua. Kami pun makin heran mengapa yang notabene Istanbul mayoritas muslim, namun suasana waktu subuh di masjid sangat berbeda di mana hampir belum ada jama’ahnya dan adzan pun belum juga dikumandangkan.

Kami akhirnya memutuskan untuk berwudhu walau mungkin harus menunggu agak lama untuk memulai sholat Subuh berjama’ahnya Sayangnya, air wudhunya saat dikumurkan terasa aneh rasanya dan baru sadar warnanya putih bukan bening seperti air biasa. Kami pun sempat bingung untuk bagaimana wudhu dengan air bersih. Setelah mencoba cari tahu di sekitar tempat, kami akhirnya memutuskan untuk melakukan sholat subuh saat tiba di asrama karena kondisi tidak adanya sesuatu yang bisa digunakan untuk berwudhu saat itu dan tidak ada lagi masjid setelahnya. Setelah keluar dari masjid tersebut, saya terus merasa heran mengapa bisa terjadi keadaan tersebut di waktu subuh. Namun setelah di cari tahu dari pengalaman turis yang pernah ingin sholat subuh di Turki, bahwa memang masyarakat Turki memiliki budaya mengakhirkan waktu sholat subuh dan itu pun mungkin tidak banyak masyarakat melakukannya apalagi di masjid terdekat dan kondisinya juga hampir terjadi setiap waktu sholat mulai dari subuh hingga isya. Saya merasa bahwa terlihat sangat jelas bagaimana masih begitu kentalnya pemikiran sekuler di Turki sehingga saya belum pernah merasakan tentang kenyataan bahwa masyarakat Turki kerap melakukan sholat subuh berjama’ah yang katanya di salah satu media mengatakan hal itu membuat pemerintah Turki tidak memiliki hutang sama sekali terhadap negara lain. Namun, bisa jadi hanya ada sedikit lokasi tertentu di mana banyak muslim Turki yang masih taat melakukan ibadah.

Setelah waktu menunjukkan pukul hampir enam pagi, akhirnya kami berhasil tiba di stasiun bis Topkapi dan langsung menuju ke Besyol. Sepanjang perjalanan pulang tersebut, saya terus mengingat bagaimana konyolnya pengalaman tersebut karena lupa terhadap waktu pada awal malam hari yang akhirnya harus berjalan kaki sepanjang hampir tujuh kilometer namun seperti kata pepatah bijak, pengalaman adalah guru terbaik sehingga rasanya hampir tidak ada yang sia-sia dari pengalaman tersebut karena paling tidak ada banyak hal hikmah yang bisa kami ambil dari pengalaman konyol tersebut.

IMG_3333
Seorang Bapak yang menuntun kami ke arah stasiun Bis
IMG_3331
Tidak jauh dari Stasiun Bis

 

**

Melalui gambaran dari pengalaman pribadi saat mengikuti program Summer School sekaligus mencari inspirasi dari jejak kejayaan yang amat bersejarah di Istanbul ini, bahwa jatuhnya kekhalifahan Islam saat itu dan dampaknya pada hari ini memberikan pelajaran berharga bagi orang yang beriman di mana masa kejayaan Islam pernah ada dan akan kembali berkuasa di bumi Allah subhanallah wa ta’ala dengan seizinNya yang mudah-mudahan kita termasuk pelaku dalam menyambut kejayaan tersebut.

Saya juga mengajak untuk para pembaca yang seiman agar setiap menjelajahi bumi Allah di manapun berada, kita harus mensyukuri akan mengagumi akan keindahanNya.

Tinggalkan Jejakmu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s