IMG_1910

INSPIRASI TURKI: Masjid dan Mazhab (4/5)

Di tengah sibuknya peserta mengikuti Summer School di Istanbul, saya menyempatkan untuk beribadah Sholat Dzuhur di masjid yang tak jauh dari asrama yang ditempati. Yang unik karena sangat berbeda dengan kebanyakan masjid di Indonesia saat pertama kali mengunjungi masjid tersebut adalah letak tempat wudhu yang berada di bawah tanah sedangkan bentuk masjid ini seperti gedung secara umum dengan dua lantai yang ruang utamanya ada di lantai dua.

IMG_1701
Ruang utama masjid terdekat dari asrama

Saat memasuki masjid ini, tampak begitu sepi, hanya segelintir jama’ah namun di bagian tengah dinding masjid yang sederhana ini begitu menarik karena dihiasi keramik berwarna biru dan ditambah suasana adem karena seluruh lantai ditutup dengan karpet yang amat lembut. Lalu tampak berbagai gantungan tasbih di pinggir-pinggir dinding yang membuat saya menduga jama’ah Turki selalu berdzikir dengan menggunakan tasbih. Bahkan di sekitar masjid, jama’ah yang didominasi ‘bapak-bapak’ terkadang memegang tasbih sambil berjalan. Di dalam masjid juga terdapat berbagai kursi yang disediakan bagi jama’ah yang tua sudah tidak sanggup lama berdiri. Selain itu juga, tempat khutbah seperti di masjid-masjid di Turki selalu disediakan khusus dengan desain yang lebih tinggi dari jama’ah.

IMG_1698.JPG
Salah satu gantungan tasbih

Akhirnya setelah menunggu beberapa menit kemudian, barulah iqomah dikumandangkan. Tetapi iqomah yang dikumandangkan ternyata kalimatnya sama dengan adzan, sesuatu yang aneh bagi saya waktu itu. Selain itu, saya juga merasakan berbagai hal yang berbeda saat sholat pertama kali dengan jam’aah Turki di masjid tersebut bahkan ini terjadi di setiap masjid. Di antaranya, sang imam memiliki jubah khusus yang mudah dilepas-pakai dengan warnanya putih sehingga siapapun anggota jama’ah yang menjadi imam akan memakai jubah tersebut saat iqomah dikumandangkan, kebanyakan jama’ah bersedekap hampir tepat di pusar perutnya, memakai kaos kaki, tidak mengeraskan suara ‘aamiin’, duduknya tasyahud akhir sama dengan tasyahud awal di setiap waktu sholat, dan setelah selesai salam, jama’ah langsung memisahkan diri dari barisan shafnya lalu mencari spot tersendiri untuk melakukan sholat rawatib kemudian berdzikir dan ada juga yang langsung memilih untuk keluar. Melalui pengalaman berbeda tersebut yang tidak pernah ditemui di Indonesia, akhirnya kebingungan saya terjawab saat melihat tulisan-tulisan di salah satu dinding yang berbahasa arab namun ada salah satu kata yang mudah dibaca yaitu kata ‘hanafi’. Saya menduga bahwa ternyata mayoritas muslim di Turki memang bermadzhab Hanafi sehingga tidak heran jika secara pengamalan fiqih berbeda dengan yang ada di Indonesia yang bermadzhab Syafi’i.

IMG_1703
Penampakan salah sudut ruang utama masjid

Pada masjid-masjid berarsitektur indah yang sangat bersejarah saya kunjungi dan juga tampak kewajiban bagi setiap turis untuk mengunjunginya seperti Sultanahmet Camii (camii dibaca jamii’ artinya masjid), Yenii Camii, Sulaiman Camii, Fatih Camii, Hagia Sophia, dan Eyup Sultan Camii, bentuk setiap gedungnya baik luarnya maupun dalam nyaris selalu sama. Gabungan antara desain Islam dan gereja Byzantium yang kompleks memberikan kesan gaya arsitektur luar biasa yang patut dikagumi bagi setiap orang pertama kali melihatnya. Selain itu, hampir setiap masjid sama-sama memiliki ciri khas dengan kubah besar dan beberapa disertai kubah kecil dengan menaranya selalu lancip.

IMG_1929
The Blue Mosque

Salah satu masjid yang menjadi paling menarik perhatian bagi saya adalah Sultan Ahmet Camii atau bagi traveler menyebutnya sebagai The Blue Mosque. Lokasinya yang strategis dengan berhadapan yang dipisahkan oleh taman Sultan Ahmet Square dengan Hagia Sophia yang juga salah satu masjid icon di Istanbul karena memiliki sejarah begitu mendalam dimana dahulunya adalah gereja utama bagi masyarakat Byzantium lalu saat ditaklukkan kaum Muslimin yang dipimpin Muhammad Al-Fatih menjadi masjid namun sayangnya hari ini menjadi museum.

IMG_1828
Bagian dalam Masjid Sultanahmet

 

Tampak dari luar ruang utama masjid biru ini ada enam menara yang menjulang tinggi dan hampir dilengkapi dengan kurang lebih tiga puluh kubah yang membuat Masjid Sultan Ahmet terlihat sangat megah dan indah. Ditambah dengan bangunan yang memiliki area yang seluruhnya hampir dihiasi keramik berwarna biru. Keramik tersebut merupakan keramik biru iznik yang terbaik pada masanya oleh karenanya masjid ini didominasi dengan warna biru. Karenanya tidak heran bagi masyarakat bukan lokal menyebutnya dengan The Blue Mosque.


Berikut beberapa dokumentasi masjid-masjid yang dikunjungi:

IMG_4476
Makam Penakluk Konstantinopel, Muhammad Al Fatih, di halaman luar Masjid Fatih

 

 

Tinggalkan Jejakmu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s