book-clock

Menambah Jam Pelajaran Sekolah, Efektifkah?

Ide menulis tema kali ini muncul ketika saya membaca artikel dari blog Zenius (Gak Suka Baca Buku? Think Again..) yang berhubungan dengan soal kebijakan Kemendikbud mengenai menambah jam pelajaran sekolah yang sempat menjadi pemberitaan di tahun lalu.

Isu tersebut dilatarbelakangi atas maraknya degradasi moral oleh kalangan pelajar sekarang ini dan berharap dengan kebijakan tersebut dapat mengatasi masalah yang sering muncul di luar jam sekolah atau bahasa kerennya menumbuhkan moral judgement. Kemudian, muncullah pendapat dari kalangan pakar akademis bahwa kebijakan tersebut dinilai banyak negatifnya atau malah justru membuat pelajar stres dan tidak efektif.

Salah satunya yang saya kutip dari sumber beritasatu.com, Ketua Satgas Perlindungan Anak, Muhammad Ihsan, mengatakan:

Usulan tersebut menunjukkan pemerintah panik dan reaktif merespon masalah tawuran, bukan berdasarkan pengkajian yang mendalam mendengarkan keinginan dan kondisi anak karena dalam waktu hampir bersamaan sudah dua pelajar tewas akibat tawuran.

Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa mengurangi jam pelajaran dapat memberikan kebebasan siswanya di luar sekolah dan mampu mengeksplorasi hal lain lebih dalam sehingga siswa tersebut dapat mengembangkan kompetensi sosialnya.

Well, perlu dipahami juga bahwa segala hal pasti ada sisi positif dan negatifnya termasuk kebijakan-kebijakan yang telah diuraikan sebelumnya. Setidaknya ada yang perlu diperhatikan dalam persoalan inti sebenarnya untuk masalah siswa sekolah saat ini yaitu kurangnya minat membaca.

Mengapa?

Membaca merupakan salah satu media yang tepat untuk merangsang kepekaan sosial yang lebih wajar dan sehat daripada meminta siswa untuk menghafal teori-teori yang ada di mata pelajaran BK, PPKn, atau buku-buku yang lain dengan harapan bisa mendidik mereka menjadi siswa yang berakhlak. Bukan berarti sepenuhnya salah, tetapi bagaimana membiasakan dan mendidik siswa sejak dini di sekolah untuk berlatih aksi nyata dari hasil pelajaran yang diajarkan.

7 Years Ago

Dari pengalaman saya ketika bersekolah di Adelaide atau ibukota dari Australia Selatan dan merasakan bagaimana sistem pendidikan yang begitu sederhana dan efektif berpengaruh terhadap siswanya hingga dewasa kelak sehingga tidak heran jika Australia disebut sebagai salah satu negara maju.

Salah satu contohnya adalah perpustakaan tempat yang saya bersekolah di Richmond Primary School dulu hampir tidak pernah sepi di saat istirahat dan siswa-siswi disana memang dibiasakan dengan cara yang fun learning untuk meminjam beberapa buku menjelang selesai jam istirahat . Pasca istirahat semua siswa di kelas hening selama hampir setengah jam sebelum memulai pelajaran selanjutnya untuk membaca buku dan akan dipanggil gurunya satu per satu menjelaskan apa yang telah dibaca. Belum sampai disitu, siswa-siswinya berlomba-lomba membaca cepat dan meminjam buku sebanyak-banyaknya karena di akhir semester akan semacam ada assembly untuk pengumuman reward bagi siapa-siapa yang telah meminjam dan membaca buku terbanyak. Hal ini merupakan salah satu strategi yang tepat agar siswa siswinya dapat memacu kemampuan dan membiasakan membaca dengan memberikan introjected motivation sejak dini.

Efek dari sistem pendidikan tersebut bisa saya rasakan hingga saat ini dimana saya masih tetap gemar membaca buku. Bisa dikatakan awalnya habits membaca tersebut mulai dari sejak SD yang dimulai dari genre fantasy adventure, komik, novel, motivasi, agama, autobiografi, dan science fiction yang telah memberikan wawasan yang lebih, menumbuhkan sikap kritis, dan melatih untuk memahami hal-hal yang non-literal/abstrak sehingga hal-hal yang membawa keburukan bisa dapat terhindarkan.

study

Jadi, ketika ditanya apakah efektif jika menambah atau mengurangi jam pelajaran sekolah maka semuanya tergantung dari proses selama jam pelajaran tersebut. Bisa saja efektif apabila diselingi selama beberapa selang dengan kegiatan yang dapat menanamkan moral judgement dengan membaca buku, storytelling, games dan lain-lain sehingga nantinya seberapa lamapun jam sekolahnya,  siswa siswinya dapat memberikan contoh akhlak yang baik sesuai yang diharapkan oleh masyarakat.

New home, Asrama Pesantren Darul Arqam Surabaya

November 2013

Tinggalkan Jejakmu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s