Orasi Ilmiah-BJ Habibie

Sepuluh Nopember & BJ Habibie

Tepat pada hari itu, 10 Nopember 2012, hari pahlawan sekaligus Dies Natalis Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Dalam rangka peringatan hari pahlawan dan hari HUT ITS ke-52, ITS menyelenggarakan orasi ilmiah atau sidang rapat terbuka dengan mendatangkan sosok yang merupakan salah satu pahlawan modern dalam bidang teknologi Indonesia sekaligus masyarakat juga sering menilainya sebagai seorang pria yang paling romantis. Ya, siapa yang tidak kenal dengan BJ Habibie? Mantan presiden ketiga ini yang memiliki nama lengkap Prof. Dr. -Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie telah membuat Indonesia menjadi terkenal di kancah internasional berkat kejeniusannya dalam teknologi terutama di bidang dirgantara.

Acara orasi ilmiah ini telah menarik perhatian sebagian banyak warga ITS yang mengetahui akan kedatangannya sejak dulu dan pada hari H tersebut membuat pandangan di ITS yang terlihat langka karena para mahasiswa sejak pagi sekitar jam 7:30 dengan rapi memakai jas almameter kebanggaannya berbondong-bondong ke graha ITS, padahal acara tersebut akan dimulai pada jam 9. Tidak mau kalah seperti mereka, saya pun akhirnya ikut bersama teman saya, Muhammad Aulia. Ketika kami tahu waktu sudah menunjukkan lewat jam 9, kami akhirnya berangkat dengan menghiraukan aturan yang telah ditetapkan panitia bahwasanya peserta hanya dibatasi dengan 1000 mahasiswa, karena sebelum hari itu, telah dibuka pendaftaran 1000 peserta untuk hadir di graha tetapi konfirmasi dari panitia tidak kami dapati. Konon, yang terdaftar mencapai 3000 peserta. Bagaimanapun, kesempatan ini mungkin hanya sekali dan kami mengharapkan bisa mendapatkan inspirasi dari pahlawan yang masih hidup secara langsung. Beruntung ketika sampai di graha, kami melihat dari luar pintu masuk, Pak BJ Habibie baru saja memulai orasinya sehingga kami tidak ketinggalan dan sesaat kami melihat sekeliling tidak ada pengecekan khusus untuk bisa masuk ke indoor dan juga terlihat ada beberapa bangku yang masih kosongakhirnya kami pun bisa menyaksikan secara langsung orasinya yang begitu karisma.

Yang paling mengesankan ketika baru saja membuka orasinya, BJ Habibie langsung mengingatkan siapa diri kita, “Kita adalah keturunan para pejuang yang tidak akan pernah berhenti berjuang”. Sambil ia menunjuk kepada ribuan mahasiswa yang hadir, BJ Habibie kembali dengan lantang berkata “Kalian… kalian semua adalah cucu saya, cukup panggil saya eyang tanpa titel atau embel-embel apapun. Tugas saya disini tidak lain adalah untuk mencharge kalian dengan kesadaran bahwa kalian semua adalah keturunan para pejuang” ujar sang eyang. “Kita tahu bahwa hari ini adalah hari pahlawan dan 67 tahun yang lalu di kota ini, mereka hanya mengenal kata merdeka atau mati, mereka semua bahu membahu tanpa mengenal SARA!”. Sang eyang pun melanjutkan kisahnya, “Hari ini adalah hari ulang tahun ibu saya dan kebetulan tanggal 17 Agustus adalah hari ulang tahun ayah saya, jadi jiwa pejuang sudah tercermin dalam ulang tahun kedua orang tua saya”.

BJ Habibie tidak berhenti berorasi sampai disitu dan ketika sedang berorasi, beliau sempat beberapa kali hampir terjatuh dan sesekali topinya juga ia tegakkan karena miring dan akhirnya sang mantan Ristek pun meminta izin dari para hadirin untuk menaroh topinya didepannya agar tidak menganggu orasinya. Dan teman saya sempat berkomentar soal topinya yang miring, “Mungkin karena saking beratnya otaknya kali ya?” :) Disamping terkenal akan kejeniusannya, beliau juga ternyata mencerminkan kesederhanaan sejak dulu.

Sebelum melanjutkan orasinya, beliau bercerita tentang sejarah awal bagaimana BJ Habibie saat itu berperan aktif  dalam menyelesaikan masalah di bidangnya seperti masalah keselamatan terhadap pesawat di saat zaman-zamannya masih perang dunia, “Tahun 1944 pada jam 10 pagi diadakan rapat koordinasi para dirgantara, ekonomi Eropa sedang hancur saat itu namun mereka tak kehabisan akal, mereka membuat senjata yang hampir 80% karyawan dalam industri dirgantara ada seorang Doktor berkebangsaan Jerman yang mengatakan bahwa baik Jepang maupun Jerman akan dikalahkan sehingga produksi senjata untuk alat perang tidak bisa dilanjutkan. Nah, akhirnya mereka bersepakat untuk membuat pesawat sehingga didirikan Ikero pada tanggal 7 Desember 1944 yang merupakan organisasi sipil terkaya.”

Sang eyang kembali melanjutkan dengan khasnya yang unik, “Dalam membuat pesawat, Ikero menetapkan beberapa poin penting dalam pembuatan pesawat dan salah satunya adalah pesawat itu tidak boleh mengalami kecelakaan, kalau saya dek menyebutnya safety, kemudian coast baru commision, dan asal anda tahu dek tahun 90an Ikero berada di bawah bendera PBB karena kekayaannya yang luar biasa hingga suatu hari saya diundang oleh PBB untuk mendapatkan penghargaan 50 tahun ICAO.”

“Lalu apakah saya bangga dek? Saya sedang sakit namun dipaksa untuk menghadiri dan menyampaikan sambutan dan inilah sambutan yang saya sampaikan di hadapan para pemimpin dunia kala itu. Saya berdiri disini dan penghargaan yang diterima karena karya manusia unggul yang saat ini juga sedang dipersiapkan, ini untuk mereka dan saya mengucapkan terima kasih karena sebenarnya penguasaan iptek bukan hak prerogatif bangsa, agama atau suatu kaum, mari dek jadikan penghargaan yang saya terima motivasi untuk maju.”

Dari penyampaiannya, terlihat sang eyang bertahun-tahun begitu tulus mengabdi untuk kemajuan dunia teknologi dan juga tak lupa pada bangsanya, Indonesia. Salah satu contoh konkretnya yang sampai sekarang masih terasa adalah PT. PAL yang bergerak di bidang industri perkapalan. Tak lupa ia juga memberi nasihat penting kepada ribuan mahasiswa untuk selalu optimis walaupun keadaan Indonesia sekarang ini yang semakin hari semakin tidak terkontrol ”Dek, tidak ada alasan buat kalian untuk berkecil hati, anda harus bisa lebih baik daripada saya ya.. tapi itu kuncinya konsisten. Setia dalam arti mencintai alam, setiap elemen dalam hidup dan pekerjaan, dulu saat ibu Ainun (alm) masih hidup saya pernah berjanji untuk membuatkan pesawat hingga beberapa waktu kemudian saya berhasil menerbangkan pesawat Nurtanio CN 235 di IPTN” dan saat itu pula kami merinding dan gemuruh tepuk tangan kembali memenuhi graha ITS.

Disamping orasinya tentang sejarah tersebut, BJ Habibie menyampaikan inti materi dari orasinya yakni tentang bagaimana ITS mengembangkan kemampuan teknologi kemaritiman agar menjadi ujung tombak bagi kemaritiman tanah air. Materi kali ini cukup berat, saya sempat sedikit bosan dan berusaha tetap konsisten apa-apa yang ada di slide  dalam penyampaian tersebut. Intinya, BJ Habibie menguraikan permasalahan-permasalahan bagaimana industri seharusnya mengandalkan SDA dan SDM di Indonesia terutama masalah dalam industri pertanian, kemaritiman, kehutanan, perikanan, dan sebagainya. Berikut slide yang ditampilkan dalam orasinya:

Tak terasa waktu begitu singkat, orang yang pernah menjadi no. 1 di Indonesia itu telah memberi motivasi-motivasi yang dalam dan wawasan-wawasan yang baru dan saya tidak menyangka bagaimana beliau yang sampai saat ini sudah berusia lanjut namun semangat membangun Indonesia tak pernah ia tinggalkan. Tidak heran jika di akhir acara sidang rapat terbuka, ITS untuk pertama kalinya memberi gelar pahlawan ‘Sepuluh Nopember’ ke BJ Habibie atas prestasi yang mengagungkan selama ini.

Video orasi ilmiah lengkapnya

Semoga Allah senantiasa memberi keberkahan panjang umurnya dan membimbing kami untuk menjadi generasi penerus bangsa yang lebih baik dari sebelumnya. Amin.

Tinggalkan Jejakmu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s