Man Shabara Zafira!

Artikel ini pernah saya share-kan di Blog sebelumnya dan di tempat baru ini, saya repost-kan dengan meng-edit sebelumnya artikel ini sebagai artikel pertama. Semoga bermanfaat🙂

SUNDAY, FEBRUARY 6, 2011

Ane mau share nih disini hehe🙂

Beberapa hari lalu setelah menyempatkan diri ke GRAMEDIA Matraman untuk mendapatkan buku baru yang berjudul ‘Ranah 3 Warna’ karya Ahmad Fuadi yang merupakan salah satu penulis terbaik di tahun 2010. Di buku ini beliau terinspirasi oleh kehidupan nyatanya dan setelah saya membaca lembaran demi lembaran dengan penuh penasaran dibuku ini, saya terus terkagum-kagum akan perjuangannya tokoh-tokoh dalam buku tersebut.

Nah, ada beberapa kutipan-kutipan dari yang sudah saya tandai beberapa kalimat yang patut kita ambil pelajaran dan renungkan:

Bersabar dan ikhlaslah dalam setiap perbuatan….

Terus meneruslah berbuat baik, ketika di kampung dan di rantau….

Jauhilah perbuatan buruk, dan ketahuilah pelakunya pasti diganjar, di perut bumi.. dan diatas bumi….

Bersabarlah menyongsong musibah yang terjadi dalam waktu yang mengalir….

Sungguh di dalam sabar ada pintu sukses dan impian kan tercapai…

Jangan cari kemuliaan di kampung kelahiranmu…

Sungguh kemuliaan itu ada dalam perantauan di usia muda….

Singsingkan lengan baju dan bersungguh-sungguh menggapai impian….

Karena kemuliaan tak akan bisa diraih dengan kemalasan….

Jangan bersilat kata dengan orang tak mengerti apa yang kaukatakan…..

Karena debat kusir adalah pangkal keburukan….

Diterjemahkan dengan bebas dari syair Sayyid Ahmad Hasyim. Syair ini diajarkan pada tahun ke-4 di Pondok Modern Gontor, Ponorogo.

Man Jadda Wajada!

”Siapa yang bersungguh-sungguh akan suksess!” Sebuah mantra yang diajarkan oleh Kiai Rais di Pondok Madani a.k.a. Pondok Pesantren Modern Gontor yang menjadikan motivasi si Alif a.k.a. Ahmad Fuadi jika sedang dalam keadaan kehilangan semangat.

Going the extra miles. I’malu fauqa ma ‘amilu. Berusahalah di atas rata-rata orang lain.

Kebetulan, kalimat ini seringkali saya dengar dari guru BK/BP saya masih sekolah di SMA Negeri 9 Jakarta dan jika seandainya kalimat ini diterapkan dengan sungguh-sungguh maka mungkin tidak diragukan lagi bahwa seseorang itu bisa menjadi orang yang sukses.

Tak sekedar hanya merantau di halaman kampung sendiri dan bisa jadi suatu saat akan mampu merantau ke luar negeri. Terbukti! Sang Penulis ini yang juga Scholarship Hunter ini berhasil mendapatkan 8 beasiswa ke luar negeri. Subhanallah.. sungguh Tuhan itu Maha Mendengar.

Man Yazra’ Yahsud

”Siapa yang menanam akan menuai yang ditanam.” Begitu pepatah yang diajarkan di PP Modern Gontor.

Tuhan selalu Maha Mendengar

Walau hanya berbisik di hati… sungguh Tuhan itu Maha Mendengar dan Maha Mengetahui segala isi hati hamba-Nya.

Alif, bagiku belajar adalah segalanya. Ini perintah Tuhan, perintah Rasul, perintah kemanusiaan. Bayangkan, kata-kata pertama waktu yang diterima Rasulullah itu adalah iqra. Bacalah. Itu artinya juga belajar. Makanya, aku akan terus mempraktikkan ajaran Rasul itu, bahwa kita perlu belajar dari buaian sampai liang lahat. Aku tidak akan berhenti belajar walau nanti sudah dapat gelar atau lulus sekolah. Mungkin kamu bingung dengan kegilaanku belajar. Percayalah, tidak hanya aku yang gila. Ribuan tahun yang lalu, dan di masa depan akan terus ada orang yang gila ilmu.

Kalimat tersebut adalah kata-kata dari salah satu sahabat si Alif yang bernama Baso dari Sulawesi Selatan , kawannya yang terpaksa keluar lebih dulu dari Pondok Madani karena harus merawat neneknya. Baso tidak lama lagi akan berhasil menghafal Al-Qur’an bulat-bulat. Setiap kali si Alif menerima surat dari dia, setiap kali itu pula cita-citanya untuk sekolah di Mekkah atau Madinah semakin kuat. Kata-kata Baso di dalam surat ternyata patut kita renungkan bahwasanya gila Ilmu itu wajib sebagai landasan untuk sukses di Dunia dan Akhirat…. demi bertemu sang Khalik. Suratnya bersambung ke halaman sebaliknya. Dia selalu hemat pakai kertas dan si Alif pun kaget dan mengira dia semakin hari semakin bertambah gila ilmu. Di akhir suratnya, Baso menulis sebuah pesan atau mungkin sebuah semangat buat dirinya sendiri:

Aku akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa hidup itu masalah penyerahan diri. Kalau aku sudah bingung dan terlalu capek menghadapi segala tekanan hidup, aku praktikkan kata-kata dari Kiai Rais dulu, yaitu siapa saja yang mewakilkan urusannya kepada Tuhan, maka Dia akan ‘mencukupkan’ semua kebutuhan kita. ‘Cukup’ kawanku. Itu yang seharusnya kita cari. Apa artinya banyak harta tapi tidak pernah merasa cukup? Itulah janji Tuhan buat orang yang tawakkal. Aku ingin tawakkal yang sempurna. Aku ingin dicukupkanNya dari segala kebutuhan.

Tidak perlu basa-basi lagi tentang lanjutan isi surat si Baso ini… semua isinya patut dianggap sebagai pembelajaran dan renungan.

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.

BERLELAH-LELAHLAH, MANISNYA HIDUP TERASA SETELAH LELAH BERJUANG!

Syair dari Imam Syafi’i yang membuat kepala si Alif ini terngiang-ngiang untuk terus merantau keluar dan tidak berdiam di kampung halamannya di Maninjau.

Aku sayang, aku berutang, dan aku mencintai mereka. Mereka jiwa yang senang tapi mungkin badan yang letih.

Begitulah ungkapan sang Alif ketika Ayahnya sedang sakit keras dan tidak bisa berbuat apa-apa selain Do’a.

Nak, ingat-ingatlah nasihat pada orangtua kita. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Jangan lupa menjaga nama baik dan kelakuan. Elok-elok menyeberang. Jangan sampai titian patah. Elok-elok di negeri orang. Jangan sampai berbuah salah.

Nasihat singkat dari almarhum Ayahnya si Alif.

Nak, sudah wa’ang patuhi perintah Amak untuk sekolah agama, kini pergilah menuntut ilmu sesuai keinginanmu. Niatkanlah untuk ibadah, insya Allah selalu dimudahkanNya. Setiap bersimpuh setelah salat, Amak selalu berdo’a untuk wa’ang.

Ungkapan dari Ibu si Alif untuk terus merantau menuntut ilmu.

Anak-anakku, sungguh do’a itu didengar Tuhan, tapi Dia berhak mengabulkan dalam berbagai bentuk. Bisa dalam bentuk yang kita minta, bisa ditunda, atau diganti dengan yang lebih cocok buat kita.

Si Alif yang mencoba menghibur dirinya dengan memutar ingatan ketika Kiai Rais memberi nasihat.

Jadilah seperti anjuran Nabi, khairunnas anfauhum linnas, sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang memberi manfaat bagi orang lain.

Lagi-lagi nasihat dari Kiai Rais yang membuat kepala si Alif terdengung-dengung.

Wahai anakku, latihlah diri kalian untuk selalu bertopang pada diri kalian sendiri dan Allah. I’timad ala nafsi.

I’timad ala nafsi yang artinya adalah mandiri, bertumpu pada diri sendiri. Pesan dari Kiai Rais waktu di Pondok Madani.

Tuhan, bahwa setelah setiap kesusahan itu ada kemudahan. Aku tahu. Tapi kapan kemudahan itu akan datang? Kali ini sungguh tidak tahu.

Ungkapan si Alif yang sedang bimbang bersama Tuhannya yang juga kadang kita ungkapkan dalam dunia yang penuh menantang ini.

Ya Tuhan yang Maha Menyaksikan, Engkau telah mengatakan tidak akan memberi manusia cobaan di atas kemampuan nya. Engkau tidak akan mengubah nasib kaumi, sebelum kaum itu mengubah nasibnya. Karena itu aku ingin mengubah nasibku dengan mencari kerja sekarang juga. Pertama supaya kuliahku tidak putus, kedua supaya aku bisa mengirim yang untuk membantu Amak dan adik-adik.

Yang berjanji: Alif Fikri

Yang pasti menyaksikan di atas sana: Allah

Ungkapan janji si Alif untuk diri sendiri yang ditulis dalam surat dan ditempelkan di dinding kamarnya agar selalu sadar dan tidak main-main dengan nasib hidupnya.

iza shadaqal azmu wadaha sabil, kalau benar kemauan, maka terbukalah jalan.

Alif kembali ingat salah satu pepatah yang dia pelajari di Pondok Madani dulu.

Sahabat KCLBS, sebuah syair Arab mengatakan, siapa yang bersabar dia akan beruntung. Jadi sabar itu bukan berarti pasrah, tapi sebuah kesadaran yang proaktif. Dan sesungguhnya Allah itu selalu bersama orang yang bersabar.

SABAR? Telinga si Alif bagai berdiri ketika mendengar dari siaran Radio ini. Disinilah puncak isi buku di Ranah 3 Warna tentang ”Man Sabara Zafira-Siapa yang bersabar dia akan beruntung.”

Yang namanya dunia itu ada masa senang dan masa kurang senang. Di saat kurang senanglah kalian perlu aktif. Aktif untuk bersabar. Bersabar tidak pasif, tapi aktif bertahan, aktif menahan cobaan, aktif mencari solusi. Aktif menjadi yang terbaik. Aktif untuk tidak menyerah pada keadaan. Kalian punya pilihan untuk tidak menjadi pesakitan. Sabar adalah punggung bukit terakhir sebelum sampai di tujuan. Setelah ada di titik terbawah, ruang kosong hanyalah ke atas. Untuk lebih baik. Bersabar untuk menjadi lebih baik. Tuhan sudah berjanji bahwa sesungguhNya Dia berjalan dengan orang yang sabar.

Penyampaian dari Kiai Rais ketika tampil di panggung dan melihat sebagian yang kelelahan dan menjadi malas, beliau mengumpulkan mereka dan berbicara dengan pelan dan penuh perasaan.

Hari ini sudah kami anggap cukup pendidikan dan latihan yang kami berikan pada kalian semua. Apa pun kelebihan dan keterbatasanmu, jadilah orang yang berguna untuk dirimu, keluargamu, masyarakatmu, sebanyak mungkin dan seluas mungkin.

Anak-anakku… Dalam menjalani hidup, Ananda pasti banyak problematika kehidupan yang kadang-kadang terasa sangat berat. Namun, Ananda janganlah sampai putus asa karena putus adalah penyakit yang mengagalkan perjuangan, harapan, dan cita-cita. Problem tidak akan selesai hanya dengan diuasahakan, tetapi harus dipikirkan dan dengan selalu dekat kepada Allah serta selalu mohon hidayah dan taufikNya.

Maka berbuatlah, berpikirlah, bekerjalah semaksimal mungkin, menuju kesempurnaan manusiawi yang lebih bertakwa. Aaamin ya robbal ‘alamin

Disarikan dari nasihat para kiai Gontor di acara khutbatul wada, ketika lulusan akan berjuang di masyarakat.

man jadda wajada : siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses

man shabara zhafira : siapa yang bersabar akan beruntung

man sara ala darbi washala : siapa yang berjalan di jalanNya akan sampai ke tujuan.

Tiga baris tulisan tebal bertinta biru yang mulai pudar dari dalam dompetnya. Jari si Alif makin bergetar ketika mengeja satu-satu tulisan ini.

Coba kalian bayangkan, misalnya, Thomas Alva Edison yang menciptakan lampu ini kurang sabar, tidak tahulah kita bagaimana dunia ini jadinya. Dia gagal dalam eksperimen membuat lampu sampai 1000x. Tapi dia sabar, karena tahu di depan ada jalan. Bila dia sabar dan terus man jadda wajada, tentu lama-kelamaan dia akan beruntung. Dia bertahan dan mencoba lagi, dan terciptalah lampu pijar yang menjadi penerang dunia. Kalau dia tidak sabar, kita mungkin masih pake obor untuk menerangi rumah. Tuhan akan menerangi orang yang sabar….

Begitu jelas nasihat Ustad Salman dulu kepada mereka yang sekelas ketika membahasa ”mantra” man shabara zafira.

Aku anak yatim… Iya, TAPI YATIM YANG KUAT.

Aku tidak punya uang… Iya, TAPI AKAN SEGERA PUNYA.

Nasibku malang… Iya, TAPI AKAN SEGERA BERUNTUNG.

KALAU AKAU MELEBIHKAN USAHA-MAN JADDA WAJADA

KALAU AKU BERSABAR MAKSIMAL-MAN SHABARA ZAFIRA

Dengan segenap jiwa, si Alif menegaskan untuk dirinya bahwa dirinya tidak mau menjadi pecundang, orang yang kalah sebelum perjuangan.

Bahwa sedekah terbaik itu dilakukan di kala kesusahan, bukan di kala senang saja. Bila kita menyayangi apa yang ada di bumi, maka Dia yang di langit akan menyayangi kita pula.

Lagi-lagi pelajaran yang diajarkan di Pondok Madani muncul di kepala si Alif untuk terus bersedekah.

al muhafazhah ala qadimi shalih, wal akhzu ala jadidil ashlah. Hanya memegang teguh hal yang baik dari masa lalu dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik lagi.

Tidaklah heran kalau benua Amerika kemudian menjadi tanah impian para imigran mulai dari Afrika, China, Eropa, Timur Tengah, sampai Indonesia. Tidak hanya mencari rezeki, banyak pula orang berlayar ke benua untuk menuntut ilmu. Mulai dari Iqbal, sang pemikir hebat dari Pakistan sampai Fidel Castro pemimpin Kuba, belajar di Amerika.

Kalau kita kondisikan sedemikian rupa, impian itu lambat laun akan jadi nyata. Pada waktu yang tidak pernah kita sangka-sangka

Begitu nasihat Ustad Salman wali kelasnya si Alif di Pondok Madani.

Ingat, anak-anakku yang aku cintai, kami tidak memberi ikan kepada kalian, tapi kami memberi pancing, kalian sendirilah nanti yang akan mencari ikan dengan pancing ini. Pancing ini adalah semua ilmu, semua pengalaman, semua bahasa, semua disiplin, semua air dan udara yang kalian hirup selama di sini. Selamat berjuang, anak-anak. Selamat memancing yang baik-baik.

Nasihat dari Kiai Rais yang memberi petuah tentang ”memancing” kepada para murid yang akan lulus dari Pondok Madani.

Raja : Ustad, bagaimana kalau kita bertemu dan suka pada seorang gadis selama masa liburan.

Ustad Salman : Suka sama perempuan? Saya juga mengalami itu. Dan itu artinya kalian sehat dan normal. Memang sudah kodrat kita sebagai manusia , saling suka lawan jenis. (kemudian dia diam sejenak)

Ustad Salman : Tapi tahu nggak, suka itu datang dari sono, jadi kita harus ikut aturan yang di sono.

Raja : Jadi maksud Ustad?

Ustad Salman : Suka boleh saja, tapi jangan sampai kalian berduaan. karena banyak mudharat-nya. Nanti kalau berdua-duaan, ada makhluk ketiga yang diam-diam berada di antara kalian. Dia adalah setan yang membisikkan berbagai hal buruk yang bisa membuat kalian terbawa arus dan melanggar aturan agama. Jadi berteman boleh saja, tapi jangan berpacaran. Kalau nanti tiba masanya, umur kalian cukup dan kemampuan ada, barulah kalian berpasang-pasangan menjadi sebuah keluarga, melalui pernikahan. Percayalah, sesungguhnya itu lebih baik dan aman buat kalian semua.

Hahaha…. ternyata masalah pacaran juga dibahas dalam buku ini. Beginilah konsep pacaran yang pernah diajarkan di Pondok

Madani bersaman si Alif dan kawan-kawannya dan salah satunya si Raja (bukan Raja sesungguhnya, hanya sebuah nama) yang pada saat itu si Alif sedang jatuh hati dengan Raisa teman perempuannya dalam masa kuliahnya. Saat itu si Alifi ingin mengungkapkan isi hatinya ke Raisa tapi tiba-tiba tertunda karena mengingat konsep pacaran dalam Islam.

Yang tak kalah penting dari semua kutipan diatas adalah nasihat terakhir dari Kiai Rais kepada semua calon alumni Pondok Madani. Bunyinya….

Anak-anakku…

Akan tiba masa ketika kalian dihadang badai dalam hidup. Bisa badai di luar diri kalian, bisa badai di dalam diri kalian. Hadapilah dengan tabah dan sabar, jangan lari. Badai pasti akan berlalu.

Anak-anakku…

Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani, badai hati. Inilah badai dalam perjalanan menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan menghempaskan iman, logika, kepercayaan diri, dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat.

Anak-anakku…

Bila badai datang. Hadapi dengan iman dan sabar. Laut tenang ada untuk dinikmati dan disyukuri. Sebaliknya laut badai ada untuk ditaklukkan, bukan ditangisi. Bukankah karakter pelaut andal ditatah oleh badai yang silih berganti ketika melintas lautan tak bertepi?

Semoga bermanfaat.

2 thoughts on “Man Shabara Zafira!”

  1. السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
    Izin share dan izin copy
    Insha allah bisa bermanfaat buat hamba Allah yang lain dalam ikhtiar nya..
    Syukron

Tinggalkan Jejakmu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s